Benih Lele-Indramayu
Produksi benih lele di bumi Wiralodra ini mencapai 150 juta ekor/bulan
selain dikenal sebagai sentra penghasil ikan lele ukuran konsumsi, kabupaten Indramayu juga mulai dikenal sebagai sentra penghasil benih lele yang cukup besar di kawasan Jawa Barat (Jabar). Bahkan, untuk saat ini, produksi benih lele di bumi Wilarodra ini telah mengalahkan dominasi wilayah Parung Bogor, yang sebelumnya dikenal sebagai sentra penghasil benih lele untuk kawasan Jabar. Hal ini diungkapkan oleh AR Hakim, kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Indramayu saat dikonfirmasi TROBOS melalui telepon selulernya. Setiap bulan, kabupaten Indramayu mampu menghasilkan benih lele tak kurang dari 150 juta ekor, ujarnya bangga.
Pernyataan serupa dilontarkan oleh H Carmin Iswahyudi, kepala UPP (Unit Pelayanan Pengembangan) perikanan divisi air tawar kabupaten Indramayu, saat ditemui TROBOS di salah satu lokasi pembenihan yang terletak di desa Sukamelang, kec Kroya, Indramayu. Sejak tahun 2002, perbenihan lele di Indramayu terus berkembang. Dan saat ini produksinya telah melampaui produksi wilayah Parung Bogor, ujar Maming, sapaan akrab H Carmin Iswahyudi.
Pada kesempatan yang sama, Moh Tarom, Fish Feed Division PT Matahari Sakti, juga menguatkan pernyataan Maming. Menurutnya, sentra penghasil benih lele sudah mulai beralih dari Parung ke Indramayu. Saat ini Indramayu sudah menjadi sentra pembenihan dan pendederan lele di Jawa Barat. Produksinya juga sudah jauh melebihi wilayah Parung dan sekitarnya. Sebagian dari benih lele yang dihasilkan para pembenih di Indramayu juga dikirim ke Parung, Pandeglang, Karawang dan Subang.
Menurut Hakim, pengembangan perbenihan ikan lele di wilayahnya ini dikonsentrasikan pada dua kecamatan, yaitu kecamatan Kroya dan Gabuswetan. Ada lebih dari 150 orang pembenih terserap dalam bisnis perbenihan lele di dua kecamatan tersebut, tambah Hakim. Jumlah tersebut belum termasuk para pekerja yang bekerja di pembenihan-pembenihan yang ada.
Sedangkan untuk pengembangan usaha pendederan dan pembesaran lele di kabupaten Indramayu, sudah dikonsentrasikan di kecamatan Losarang dan Kandanghaur, dengan memanfaatkan bekas tambak udang windu idle (mangkrak), yang banyak bertebaran di sepanjang pantai utara Indramayu. Potensi tambak idle tersebut mencapai 4.000 ha dan yang sudah dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar baru sekitar 500 ha, Maming menyebut data.
Masih Kekurangan Benih
Meski mampu memproduksi benih lele sebanyak 150 juta ekor/bulan, Hakim mengaku, jika jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan benih para pembudidaya pembesaran yang ada di Indramayu. Terutama pada saat musim tanam lele kembali dimulai pasca kemarau panjang, yang biasanya jatuh pada bulan November. Pada saat musim tanam tiba, kebutuhan benih bisa mencapai 250 juta ekor/bulan, karena semua pembudidaya menanam lele pada saat yang bersamaan,? jelas Hakim. Tak heran, pada masa tersebut para pembudidaya pembesaran lele di Indramayu harus mendatangkan benih lele dari daerah lain.
?Pada saat musim tanam, biasanya kami terpaksa mendatangkan benih lele dari Cirebon dan Karawang, karena jumlah benih yang dihasilkan di Indramayu tidak mencukupi,? ungkap Maming yang juga menjadi ketua kelompok tani Taman Lele, yang beranggotakan para pembudidaya pembesaran lele.
Kekurangan benih ini disebabkan semakin berkembangnya usaha pembesaran lele di Indramayu. Saat ini para pembudidaya lele di Indramayu mampu menghasilkan sedikitnya 40 ton ikan lele konsumsi setiap hari. Sebanyak 30% dari kebutuhan ikan lele di Jakarta sudah bisa disuplai dari Indramayu, ujar Tarom menanggapi. Menurutnya dalam sehari, Jakarta sedikitnya menyerap 150 ton ikan lele.
Program Peremajaan Induk
Meski mampu berkembang dengan cukup pesat, usaha pembenihan ikan lele di Indramayu bukan berarti tidak memiliki kendala. Menurut pengakuan Rawud Riyadi, ketua kelompok pembenihan ikan lele Mina Rasa VI yang berlokasi di desa Sukamelang, kecamatan Kroya, Indramayu, pengembangan usaha pembenihan lele di Indramayu masih tergajal dengan masalah ketersediaan induk lele berkualitas. Induk-induk yang ada saat ini sudah mengalami penurunan kualitas, ujarnya. Hal ini ditandai dengan adanya indikasi penurunan produksi larva yang dihasilkan.
Masalah penurunan kualitas induk juga diserukan oleh Maming. Menurutnya induk-induk lele yang digunakan oleh para pembenih yang ada di Indramayu merupakan induk lele eks Thailand turunan ke-3 (F-3). Telah terjadi penurunan kualitas yang cukup signifikan dibandingkan dengan induk lele eks Thailand turunan pertama (F-1). ?Mutlak perlu regenerasi induk, tuntut Maming.
Mencuatnya permasalahan penurunan kualitas indukan pada akhir-akhir ini juga diakui oleh Hakim. Karena itu, dia mengaku jika pihaknya merespon permasalahan tersebut dengan menggulirkan program peremajaan induk lele yang ada di Indramayu. Kami mengganti semua induk yang ada dengan indukan lele Sangkuriang, ujar Hakim. Jenis lele Sangkuriang dipilih karena dinilai memiliki performa yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan induk lele eks Thailand yang digunakan oleh sebagian besar pembenih yang ada di wilayahnya.
sumber Majalah Trobos edisi Februari 2009
0 komentar:
Posting Komentar