Selasa, 17 Maret 2009

Bibit Ikan Mas

Anakan Ikan Mas

Ikan mas laleutik (kecil-kecil) ini ternyata memiliki pasar yang prospektif. Tak pernah ada kata rugi dalam membudidayakannya. Russanti Lubis
Ada gula, ada semut. Begitulah gambaran bisnis ikan mas balita yang dijalankan Rosyid Dahlan, mantan Account Officer Bank Rakyat Indonesia cabang Cianjur, Jawa Barat. Dikatakan begitu, semula ikan mas balita cuma dibudidayakan, di Cianjur khususnya, secara sambil lalu. Mendadak, boleh dikata begitu, dibudidayakan secara intensif. Hal ini, ternyata dipicu oleh banyaknya permintaan dari kalangan berduit di Jakarta.
“Orang-orang Jakarta kalangan atas justru lebih menyukai ikan mas balita dibandingkan ikan mas dengan ukuran pada umumnya. Dengan digoreng garing, ikan-ikan seukuran jari tangan orang dewasa ini, akan terasa renyah dan gurih saat dimakan. Bahkan, beberapa orang menjadikannya sebagai teman minum teh atau kopi,” jelasnya. Sekadar informasi, ikan mas balita ini, karena ukurannya yang mungil, hanya dapat dikonsumsi dengan cara digoreng.

Apa sih ikan mas balita? “Ikan mas balita merupakan nama dagang yang diberikan oleh sebuah perusahaan katering di Bogor, terhadap ikan mas yang saat dipanen baru berumur sebulan. Sebenarnya, istilah ini mengacu kepada ikan-ikan tersebut setelah mereka diolah atau digoreng. Produsen lain mengistilahkannya ikan laleutik (Sunda: ikan kecil-kecil, red.), ikan baby, dan sebagainya. Sedangkan dalam pembudidayaan ikan mas, ia diistilahkan putihan,” katanya. Sekadar informasi, dalam pembudidayaan ikan yang berwarna kuning keemasan ini, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, yang dimulai dari penetasan dan diakhiri dengan pemanenan. Ketiga tahapan itu diistilahkan burayak, gabar, dan putihan. “Serah, itu istilah Cianjurnya,” imbuhnya.

Dari segi bisnis, Rosyid melanjutkan, mengembangbiakkan ikan mas balita lebih berisiko dibandingkan membudidayakan ikan mas dalam ukuran normal, yang jelas-jelas lebih menguntungkan. Tapi, bila petani ikan mas tidak mempunyai lahan yang cukup besar, budidaya ikan mas balita tentu saja lebih prospektif, apalagi untuk kondisi saat ini. “Untuk membesarkan ikan mas hingga seberat ¼ kg saja, dibutuhkan lahan yang sangat besar. Jadi, bayangkan berapa luas empang yang harus kita miliki, jika kita menebar satu liter benih ikan mas, padahal dalam satu liter itu terdapat 2.000 benih,” ujarnya. Sekadar informasi, satu liter benih ikan mas dijual dengan harga Rp50 ribu.

Budidaya ikan mas balita, khususnya, juga sangat tergantung pada kondisi lokasi pembudidayaan. “Ikan mas balita bagus dikembangbiakkan di daerah yang memiliki kondisi alam dan cuaca seperti Cianjur, misalnya di Ciganjur atau Depok,” katanya. Di samping itu, sebelum budidaya dilakukan, kita juga harus memiliki empang yang benar-benar terpelihara. “Caranya, keringkan empang terlebih dulu selama minimal lima hari. Setelah itu, kawinkan ikan mas betina dengan pejantan dalam empang tersebut. Usai perkawinan, di hari yang sama, ikan mas betina akan bertelur. Tiga hari kemudian, telur-telur ini akan menetas. 12 hari berikutnya, ikan-ikan ini sudah dapat dipanen dan dijual. Jadi total waktu yang dibutuhkan dalam budidaya ini hanya 20 hari,” ungkapnya. Usai dipanen, empang harus dibersihkan lagi. Jika kurang subur, bisa diberi pupuk.
Dari setiap liter benih yang ditebarkankan dihasilkan 30 kg ikan mas balita. Tapi, hasilnya tidak selalu sebesar itu karena banyak faktor, misalnya penyakit, benih dimakan binatang lain, air yang terkena polusi, atau cuaca yang kurang mendukung. “Musim kemarau bagus untuk mengembangbiakkan ikan, sedangkan musim penghujan akan menghambat pertumbuhan ikan,” jelas pria yang mulai serius berbisnis budidaya ikan sejak tahun 2000 ini. Di sisi lain, ikan mas balita juga dapat dibudidayakan di sawah (minapadi, red.). Tapi, karena dilakukan secara tradisional atau alakadarnya dan disambi menunggu benih padi siap tanam, maka hanya akan dihasilkan 20 kg untuk setiap satu liter benih yang ditebarkan.

Dalam pemasarannya, di tingkat petani, ikan-ikan imut ini dijual dengan harga Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram, maksimal Rp20 ribu/kg. Sedangkan setiap kilonya berisi sekitar 200 ekor. “Saya panen sebulan sekali sebanyak 50 kg, sedangkan setiap minggu saya harus memasok 4 kuintal ke sebuah perusahaan katering di Bogor, sehingga saya harus mengumpulkan sisanya ke para petani ikan balita setempat. Bahkan jika bulan puasa tiba, saya harus memasok sekitar 3 kuintal per tiga kali seminggu,” kata pemilik sembilan empang dengan total luas hampir 2 ha, yang tersebar di Kampung Kopo, Kampung Joglo, dan Kampung Bojongrenget, yang semuanya terletak di Cianjur. Setelah diolah (digoreng dan dikemas, red.), ikan-ikan ini dijual ke konsumen dengan harga Rp55 ribu per ¼ kg.

“Bisnis (budidaya) ikan itu tidak merugikan. Bahkan, kadangkala mendatangkan untung besar, meski tak jarang hanya untung kecil yang bisa diraup, tapi tidak pernah merugi, sepanjang sudah memiliki atau mengetahui pasarnya,” ucap Rosyid. Anda tertarik? Silahkan lihat boks.
Analisa Usaha Ikan Mas Balita (dalam 1 periode)Jika Anda berminat berbisnis ikan mas balita, tapi Anda tidak mau direpotkan dengan segala tata aturan pembudidayaannya atau luas lahan Anda terbatas, maka sebaiknya Anda cukup membeli benihnya saja.

Investasi :

Benih 2 lt @ Rp50.000,-/lt Rp 100.000,-
Biaya ProduksiPakan 1 kuintal @ Rp4.000,-/kg Rp 400.000,-
1 tenaga kerja Rp 100.000,-

Total Rp 600.000,-

Hasil Penjualan (tingkat petani)60 kg @ Rp20.000,-/kg Rp1.200.000,-

Laba Kotor Rp 600.000,-

Catatan: Risiko kematian 15% hingga 20%.

Pembudidayaan ini dilakukan di dalam kolam seluas 1.000 m². Laba kotor ini merupakan hasil panen ikan mas balita hanya dalam satu kolam. Dengan demikian, semakin banyak kolam yang dimiliki, semakin banyak laba yang diraup.

sumber : majalahpengusaha

Larva ikan bawal

Budidaya Larva Ikan Bawal

Dengan ukuran tak lebih besar dari jarum pentul, larva bawal bisa menjadi bisnis yang menggiurkan. Untungnya bisa puluhan juta per bulan. Anita Surachman
Selama ini orang hanya mengenal bisnis budidaya ikan bawal tawar atau pemijahan ikan bawal. Padahal di antara dua rantai itu ada celah bisnis yang menggiurkan, yakni sebagai pemasok larva ikan bawal. Segelintir orang yang mengetahui peluang bisnis tersebut adalah Bety Rahmawati, mojang Cianjur almumnus Institut Pertanian Bogor Jurusan Perikanan.

Dengan modal awal Rp 3.400.000.- Bety sudah bisa menjalankan bisnisnya. Sebagian modalnya digunakan untuk membeli 300.000 ekor larva, sisanya untuk biaya operasional. Dibandingkan dengan para petani yang membudidayakan bibit dan pembesaran ikan bawa, bisnis yang ditekuni Bety jauh lebih simpel dengan resiko jauh lebih kecil. Hasilnya? Bisa puluhan juta per bulan.

Kedekatan Bety pada bawal, bermula dari kebutuhan untuk biaya kuliahnya. Pada semester kedua ia menghadapi situasi ekonomi yang sulit, sampai ia dituntut untuk mencari biaya sendiri. Usahanya di bidang penjualan pakaian dan makanan ternyata tidak mampu menutupi. Bety pun memutar otak mencari peluang usaha supaya kuliahnya tidak putus di tengah jalan. Sampai kemudian ada yang mengajaknya usaha di ikan patin namun bisnis tersebut tidak berjalan mulus, terlalu banyak kendala yang dihadapi.

Pada akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang membutuhkan larva ikan bawal. Ternyata ikan bawal memiliki pasar yang lebih prospektif dibanding ikan tawar lainnya. Perputarannya bagus, cepat dan simpel. “Kata pak haji (pembudidaya bibit dan pembesaran ikan bawal-red): patin nggak butuh, tapi kalau larva bawal berapa saja saya duitin, hah!,” ucapnya menirukan Pak Haji,s alah satu pelanggan setianya. “Kalau begitu tinggal saya cari aja bandar besar di Bogor”, kata Bety dengan antusiasnya.

Beruntung ia bertemu dengan kakak kelasnya angkatan ke 28 yang memiliki farm besar di Bogor. Modal awal yang dimiliki diakui berasal dari penagguhan biaya kuliahnya. Keputusan menunda pembayaran SPP tersebut ternyata tidak sia-sia, karena penjualan itu berbuah sukses. Usaha Bety selanjutnya adalah memenuhi permintaan larva ikan bawal para petani ikan. Kini ia dapat memenuhi pesanan dari Cianjur, Subang, Tasikmalaya, Sukabumi, Parung, dan sebagainya. Saat ini daerah Cianjur memang lebih difokuskan untuk pemasokan, melihat domisili Bety yang tinggal di kota ini. “Permintaan dari luar daerah, bahkan luar Pulau Jawa banyak, tetapi saya hanya fokus di sekitar Cianjur saja.”

Ikan bawal air tawar atau colossoma macropomum adalah salah satu ikan unggulan budidaya perikanan air tawar. Kelebihan ikan bawal ini, ukuran badannya cukup besar, dagingnya gurih dan tidak banyak duri sedangkan dari sisi rasa, ikan bawal air tawar tidak kalah lezat dibanding ikan bawal air laut, dagingnya pun lebih padat dari ikan yang lain. Diakui oleh Bety, prospek dari bisnis pemasok larva ikan bawal ini sangat baik. “Prospeknya bagus, karena ikan dikonsumsi oleh orang banyak, selama orang masih suka ikan saya tidak akan berhenti berbisnis di ikan,” ujar Bety.

Untuk budidaya larva ikan bawal air tawar ada beberapa tahapan. Tahapan itu dawali dengan pemeliharaan induk. Umur mempengaruhi kualitas induk oleh karena itu induk harus berumur dua atau tiga tahun, semakin tua semakin bagus. Tahap berikutnya dilakukan pemijahan (perkawinan antara induk jantan dengan induk betina di suatu tempat), induk harus disuntik hormon opavrim (obat perangsang supaya ikan mudah memijah) terlebih dahulu, setelah itu dilakukan pengangkatan telur yang dilanjutkan dengan pemeliharaan larva, pengangkatan larva ke kolam pemeliharaan benih sampai umur 40 hari, kemudian dilakukan pemberian pakan, lalu diangkat kejaring apung dan dipelihara hingga empat bulan untuk bisa dikonsumsi pelanggan.
“Untuk memilih bibit ikan yang baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, bibit harus sehat, bibit yang sehat dapat dilihat dari bentuk tubuhnya, bentuk siripnya, ketahanan tubuhnya, kemudian nafsu makannya, untuk kelengkapan seperti sirip kepala, punggung, dada, dan ekor, dapat terlihat setelah usia empat puluh hari. Sedangkan bibit larva bawal yang baik, bisa dilihat berdasarkan usianya, jika sudah masuk umur 7, 8, 9 hari atau seminggu keatas sampai umur ke 10, 11, 12 hari (maksimal) itulah yang bagus, berarti ikan sudah makan, pakan yang diberi untuk larva bawal ini disebut artemia (pakan alami yang instan),” kata Bety.

sumber : majalahpengusaha

Belut

Budidaya Belut

Jumlah permintaan komoditi belut terus melesat, baik di dalam maupun di luar negeri. Pasokan yang ada belum bisa mencukupi. Peluang yang perlu Anda pertimbangkan. Wiyono
Gurihnya daging belut semua orang tahu. Tetapi tahukah Anda jika komoditi satu ini peluang pasarnya segurih rasanya? Sonson Sundoro, pembudidaya belut sejak 1986 dan telah melakukan ekspor mulai tahun 1996, mengatakan, permintaan pasar, baik domestik maupun ekspor dari waktu ke waktu terus meningkat. Di pasar lokal belut diserap, baik oleh pasar-pasar tradisional, swalayan, hingga ke rumah-rumah makan. Sedangkan untuk luar negeri, Sonson menjualnya ke Cina, Taiwan, Korea, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dan sampai saat ini, jumlah permintaan belum sebanding dengan besarnya kemampuan suplai barang.

Pada waktu pertama kali ekspor belut ke Hongkong tahun 1996, pengusaha Dapetan Eels Farm asal Bandung itu mengaku baru bisa suplai sebanyak 5 ton belut/minggu dari permintaan 25 ton/hari. Faktor penyebab kesulitan pasokan karena belut hasil budidaya belum signifikan jumlahnya, jadi sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dari alam. Padahal, seperti dikatakan, mulai tahun 2004 permintaan belut hidup dari RRC dan Hongkong meningkat tajam, yaitu 100 ton/hari untuk satu orang importir, dari lebih dari 5 importir. ”Dan yang bisa dipenuhi hanya 2,5 ton/hari, itu pun kadang-kadang kurang. Karena itu tadi, hasil dari tangkapan alam tidak selalu ada sedangkan dari budidaya belum begitu banyak hasilnya,” ujar Sonson.Dibandingkan dengan komoditi ikan air tawar lain, misalnya ikan mas atau lele, harga jual belut juga relatif lebih tinggi. Harga pasaran binatang mirip ular itu pada tingkat buyer lokal mencapai Rp35 ribu/kg, sementara untuk pasar luar negeri Sonson menjual USD5,00/kg. ”Karena permintaan meningkat dan dari pasokan tangkapan alam tidak mencukupi, apalagi pada saat musim kemarau pasokan belut di alam seakan hilang, akhirnya saya memutuskan untuk menguatkan produksi,” aku lulusan Institut Teknologi Industri jurusan Teknik dan Manajemen Industri tersebut.

sumber : majalahpengusaha

About This Blog

About This Blog

  © Blogger template Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP