Budidaya Belut
Jumlah permintaan komoditi belut terus melesat, baik di dalam maupun di luar negeri. Pasokan yang ada belum bisa mencukupi. Peluang yang perlu Anda pertimbangkan. Wiyono
Gurihnya daging belut semua orang tahu. Tetapi tahukah Anda jika komoditi satu ini peluang pasarnya segurih rasanya? Sonson Sundoro, pembudidaya belut sejak 1986 dan telah melakukan ekspor mulai tahun 1996, mengatakan, permintaan pasar, baik domestik maupun ekspor dari waktu ke waktu terus meningkat. Di pasar lokal belut diserap, baik oleh pasar-pasar tradisional, swalayan, hingga ke rumah-rumah makan. Sedangkan untuk luar negeri, Sonson menjualnya ke Cina, Taiwan, Korea, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Jepang. Dan sampai saat ini, jumlah permintaan belum sebanding dengan besarnya kemampuan suplai barang.
Pada waktu pertama kali ekspor belut ke Hongkong tahun 1996, pengusaha Dapetan Eels Farm asal Bandung itu mengaku baru bisa suplai sebanyak 5 ton belut/minggu dari permintaan 25 ton/hari. Faktor penyebab kesulitan pasokan karena belut hasil budidaya belum signifikan jumlahnya, jadi sebagian besar masih mengandalkan tangkapan dari alam. Padahal, seperti dikatakan, mulai tahun 2004 permintaan belut hidup dari RRC dan Hongkong meningkat tajam, yaitu 100 ton/hari untuk satu orang importir, dari lebih dari 5 importir. ”Dan yang bisa dipenuhi hanya 2,5 ton/hari, itu pun kadang-kadang kurang. Karena itu tadi, hasil dari tangkapan alam tidak selalu ada sedangkan dari budidaya belum begitu banyak hasilnya,” ujar Sonson.Dibandingkan dengan komoditi ikan air tawar lain, misalnya ikan mas atau lele, harga jual belut juga relatif lebih tinggi. Harga pasaran binatang mirip ular itu pada tingkat buyer lokal mencapai Rp35 ribu/kg, sementara untuk pasar luar negeri Sonson menjual USD5,00/kg. ”Karena permintaan meningkat dan dari pasokan tangkapan alam tidak mencukupi, apalagi pada saat musim kemarau pasokan belut di alam seakan hilang, akhirnya saya memutuskan untuk menguatkan produksi,” aku lulusan Institut Teknologi Industri jurusan Teknik dan Manajemen Industri tersebut.
sumber : majalahpengusaha
0 komentar:
Posting Komentar